Senin, 10 Oktober 2011

Misteri jembatan Muara Rupit



Muara Rupit sebuah kecamatan yang  terletak di kabuten Musi Rawas. Rawas adalah nama sebuah sungai yang memiliki ukuran lebar ±500 meter membentang dari Rawas Ulu hingga ke laut China selatan. Sungai itulah yang memisahkan kecamatan tersebut menjadikan ia berseberangan. Bagi menghubungi keduannya maka dibuatlah jembatan, bukan hanya sebatas memenuhi bagi daerah setempat tapi menjadi lintas Sumatra yang dilewati berbagai jenis kendaraan baik dari Palembang itu sendiri maupun dari pulau Jawa menuju Medan, Padang dan Provinsi-provinsi  lainya. Jembatan tua yang berumur setengah abad tersebut dibangun semasa penjajahan Belanda sampai kini masih kelihatan kokoh meskipun tanda-tanda penuaan pada bangunan jelas kelihatan. Lumut-lumut yang menghingapi, beton binaan telah berwarna kusam namun ia tak kunjung ambruk. Padahal air yang mengalir di bawahnya sangat deras dihantar dari penghulu sungai Rawas Ulu berakhirnya ke laut China. Laluan sungai  tersebut merupakan transportasi vital bagi rakyat setempat menjadi penghubung bagi daerah di hulu dan hilir sungai. Disebabkan Muara Rupit berada di kawasan strategis yang menjadi transit ke berbagai daerah tujuan. Juga tempat masyarakat desa-desa lainya yang terletak berhampiran membeli barang kebutuhan harian.


Pemerintah setempat menyadari hal ini dikuatirkan tertimpa petaka bagi masyarakat yang melaluinya maka dibangunlah jembatan baru berhampiran dengan jembatan lama dalam jarak tidak beberapa jauh. Pemerintah setempat juga menghimbaukan kepda masyarakat agar tidak digalakkan melewatinya. Bila dipandang dari jarak beberapa meter jembatan tua tersebut tersergam bagaikan ogokan batu yang membentuk bukit sesui dengan arsitek bangunan membentuk gelombang melekuk pada tembok dinding jembatan.  Suasana yang menyeramkan akan sangat terasa ketika waktu malam hari, unsur-unsur mistis sering terdengar seiring bunyi deru air dengan menggemakan berbagai bunyi misteri membuat kecut hati.

Menurut keterangan penduduk setempat yang mengaku bernama Bagong, jembatan yang menghubungkan tepian sunggai membentang selebar 500 meter itu banyak menyimpan misteri yang berlaku hampir setiap tahun menelan korban. Rata-rata para korban terbawah arus air yang menggelungi membentuk pusaran apabila terseret kedalamnya dipastikan kecil harapan untuk selamat. Terlebih lagi di musim air pasang pusaran di bawah jembatan membentuk lingkaran, bergelung serta menderumkan bunyi seperti guruh yang sangat kuat. Bagi orang yang tidak biasa menyaksikan pemadangan itu akan beridiri bulu kuduk menyaksikan keadaan yang mengerikan itu. Ketakutan itu sempat juga dirasakan oleh penduduk sekitar walaupun boleh dikatakan mereka memiliki kemahiran berenang.

Menurut penuturan penduduk yang bermukim di kawasan jembatan, pusaran air yang  melingkari berwajah raksasa di bawah jembatan memiliki daya tarik magnetis dari jarak radius 10 meter ia dapat menarik mangsanya. Bot-bot yang melewati di atas permukaan air tidak jarang mengalami naas digelungi pusaran air tersebut. Para korban yang tercampak di dalamnya hanya bisa ditemukan setelah beberapa hari kejadian terkadang telah berminggu-mingu mengapung hanyut jauh ke hilir sungai yang jaraknya bermil-mil. Adakalanya korban sudah tidak dapat dikenal lagi akibat sudah terlalu lama terapung-apung di sungai. 

Kisah pak Bangong menuturkan pengalamnya. Pernah suatu hari ia hampir menjeput ajal apabila pusaran air bawah jembatan berusaha merengutnya. Waktu itu beliau iseng menambatkan kayu terhanyut dari penghulu sungai yang terapung berhamparan beragam jenis. Kebiasaan masyarakat setempat musim air pasang orang-orang berduyung-duyun menambat kayu-kayu untuk dimamfaatkan menjadi papan atau dijadikan kayu bakar melihat jenis kayunya. Tutur pak Bagong lagi ketika ia coba menarik kayu-kayu itu dari hulu sungai dengan cara diikat di perahu kemudian ditarik perlahan ketepi sewaktu tempat pusaran misteri itu hampir mendekat sementara kayu yang dibawanya tidak berhasil ditarik ketepian sungai. Dalam jarak 10 meter perahu yang ia naiki hilang kontrol akibat mengaruh tarikan pusaran air yang bergelung deras. Tanpa pikir panjang beliau melepaskan tali yang mengikat kayu cepat-cepat mengayuh perahunya menuju jamban yang biasa dijadikan tempat pemandian masyarakat setempat sehingga beliau terselamat dari maut.


***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar